Galeri

Ujung tombak penerang cendikia

oleh: Yongki Aleksander

Kualitas guru dan kompetensi guru di Indonesia masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Dari sisi kualifikasi pendidikan, hingga saat ini, dari 2,92 juta guru, baru sekitar 51 persen yang berpendidikan S-1 atau lebih, sedangkan sisanya belum berpendidikan S-1.Begitu pun dari persyaratan sertifikasi, hanya 2,06 juta guru atau sekitar 70,5 persen guru yang memenuhi syarat sertifikasi. Adapun 861.67 guru lainnya belum memenuhi syarat sertifikasi, yakni sertifikat yang menunjukkan guru tersebut profesional1.

Sungguh hasil yang mencengangkan untuk ukuran pendidik di Indonesia, ini menandakan betapa masih rendahnya pendidikan yang ada di Indonesia. Guru  harus dilihat sebagai ujung tombak atau bagian paling penting dalam peningkatan kualitas pendidikan, karenaguru adalah petunjuk  arah pelajar agar bisa menjadi insan yang berguna untuk masa depan, tidak layak

 untuk membiarkan hal ini terus berlangsung lama, dimana yang salah, apa yang harus diperbaiki, apa yang masih kurang dalam negeri ini untuk meningkatkan kualitas pendidiknya, semua masih tanya jawab dan semua jawaban masih bergelimang dalam otak pemimpin bangsa ini, bangsa yang selalu yang disebut sebagai bangsa yang kaya tetapi tidak pada nyatanya.

Akhir-akhir ini dunia guru khususnya di Aceh kembali dilanda kerisauan. Kilmaksnya adalah banyak guru yang tidak lulus dalam Ujian Kompetensi Guru (UKG) yang dilaksanakan oleh Kemdiknas (Kementerian Pendidikan Nasional) sebagai bagian dari proses perbaikan mutu guru. Seperti dilansir oleh berbagai media massa, angka ketidaklulusan guru di Aceh dalam ujian UKG menempati posisi tertinggi, yaitu peringkat ke-32 dari 33 propinsi di Indonesia. Konkritnya adalah dari 6.700 guru di seluruh Aceh yang mengikuti UKG gelombang pertama Juli-Agustus 2012, sebanyak 4900 atau  73% guru tidak lulus. Kemudian, pada ujian susulan yang diadakan berikutnya jumlah guru yang tidak lulus juga masih tinggi2.

Telah muncul dibenak hati masyarakat, apakah ini hasil yang ingin diharapkan demi kemajuan pendidikan negeri ini, dan lebih buruknya lagi federasi yang anggotanya merupakan guru-guru  mengajukan gugatan tentang UKG ke MPR. Pada awalnya UKG dilaksanakan berdasarkan tiap provinsi namun pemerintah mengubah kebijakan tersebut menjadi nasional, maksudnya UKG dilaksanakan secara bersamaan seluruh Indonesia. Yang lebih membuat gelisah bangsa ini adanya salah paradigma yang terjadi pada pengajar di Indonesia, Adanya keberatan terhadap UKG sebagiannya disebabkan karena kurang memahami makna dan tujuan UKG secara holistik. Filosofi UKG pada dasarnya adalah proguru, sama sekali bukan menghakimi guru. Penting diketahui bahwa UKG meskipun berkaitan dengan proses sertifikasi guru, tetapi bukan komponen dari ujian sertifikasi. Artinya, UKG dan proses sertifikasi guru adalah dua hal yang berbeda. Oleh karena itu tidak benar jika ada anggapan bahwa tidak lulus UKG sama dengan tidak lulus sertifikasi. Inilah yang menyebabkan para ferderasi guru mengajukan gugatan kepada MPR. kita tidak patut menyalahkan siapaun dalam hal ini, kita juga tidak selayaknya menyalahkan kualitas guru yang kurang tetapi kita harus sadar harus ada komunikasi dan hubungan yang apik serta pengarahan yang baik bagi tenaga pendidik negeri ini.

Dalam proses pengupayaan meningkatkan kualitas guru. Belum tentu pengupayaan tersebut akan terus berjalan lancar. Dalam hal ini pemerintah pasti akan menjumpai sejumlah kendala yang dapat menghambat dari proses peningkatan kualitas guru, salah satunya yaitu soal dana. Memang dalam upaya meningkatkan kualitas guru dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Ini dikarenakan banyaknya jumlah guru yang tersebar di Indonesia, maka dari itu pamerintah harus cermat dan tepat dalam urusan penggunaan dana ini. Agar pengupayaan peningkatan kualitas guru dapat berjalan dengan lancar. Selain itu juga Peran pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas guru amat penting, pasalnya pemerintahlah yang paling bertanggung jawab atas nasib para guru. Jadi apabila pemerintah lengah atau gagal dalam mengurus nasib para guru, maka ini juga akan berdampak tidak baik pada kualitas dan kinerja guru. Atas keterbatasan itu maka jiwa, pikiran, dan raga mereka terkuras habis. Semua kekuatan mereka dibagi-bagi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Maka sebenarnya tidak terlalu sulit memahami kualitas mereka yang pas-pasan itu. Berawal dari  keterbatasan itu,  mereka menjadi terbatas pula untuk mengakses perkembangan ilmu pengetahuan, informasi baru, dan bahkan  membeli buku baru yang harus dibaca. Akibat lainnya, komunikasi mereka juga menjadi terbatas.

Dan bagaimanakah profesionaliats guru dalam mengajar murid-muridnya? Meskipun saat ini sudah banyak guru yang lulus sertifikasi tapi sertifikasi hanya seperti tameng bahwa guru telah memenuhi standar, dilain pihak itu salah besar gambaran komptensi profesional guru saat ini adalah sebagai berikut. Sebagian besar guru bingung ketika diminta mengembangkan Standar Isi dan SKL 2006 menjadi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Sebagian besar guru terkaget-kaget ketika diminta mempraktikkan model pembelajaran kreatif-inovatif seperti picture, numbered heads together, jigsaw, problem based introduction, dan lain-lain karena hanya mahir menggunakan dua metode: ceramah dan tugas/PR. Sebagian besar guru tidak mengerti menggunakan penilaian autentik dalam penilaian KTSP: portofolio, produk, kinerja, proyek, dan pengamatan disertai rubriknya, karena hanya tahu teknik tes obyektif untuk semua kompetensi dasar .

Hal lain yang mengenaskan,  tidak sedikit TKW yang baru pulang dari luar negeri lebih hebat dibanding guru. Para TKW dari luar negeri tatkala pulang bisa menjadi sumber informasi, misalnya bagaimana naik pesawat terbang, bercerita tentang kota-kota besar di mana mereka bekerja,  dan bahkan juga bisa berbahasa asing. Sementara itu tidak semua guru memiliki  pengalaman tentang itu.

Gambaran akan rendahnya kualitas guru yang ada diindoesia tidak hanya sebatas itu, berdasarkan  The World Competitiveness Score Board melaporkan bahwa peringkat kualitas guru Indonesia berada pada urutan ke-59 dengan score 33,81 sedangkan Malaysia pada peringkat ke-28 dengan score 65,88. Hal tersebut paralel dengan hasil tes umum untuk guru TK/SD rata-rata 34,26 sedangkan di luar guru TK/SD ratarata 40,15 dan khusus untuk nilai matematika dan sains rata-rata 13,24-22,333.

Dari kenyataannya pada saat ini kondisi pendidikan kita payah maka kualitas guru tentunya tidak akan jauh berbeda. Kondisi pendidikan akan sama payahnya jika kita bicara tentang kualifikasi guru-guru yang ada saat ini. Padahal kita sepakat bahwa hanya dengan memiliki guru-guru yang berkualitaslah kita baru akan bisa memperbaiki kualitas pendidikan kita secara mendasar dan menyeluruh.

Lantas bagaimana usaha pemerintah dalam usahanya untuk meningkatkan kualitas para guru. sebagai suatu terobosan untuk memperbaikinya meskipun harus kita akui bahwa usaha untuk meningkatkan penghasilan mereka adalah suatu usaha yang juga sangat mendasar. Secara mendasar dapat kita katakan bahwa dengan meningkatnya penghasilan mereka maka mereka akan bisa lebih berkonsentrasi pada tugas-tugas mengajar mereka. Disamping itu pemerintah diharapkan dapat memberikan kebebasan bagi para tenaga pendidik . Karena Kelihatan  guru tampak kurang memiliki kebebasan sebagai akibat birokrasi yang menghimpit.  Guru mestinya memiliki kebebasan yang seluas-luasnya untuk menjadikan muridnya pintar,  berperilaku dan atau berkarakter unggul. Akan tetapi oleh karena berbagai aturan yang harus diikuti,  menjadikan guru terbelenggu.  Guru menjadi bagaikan buruh yang harus mengikuti majikannya. Para guru itu  bertugas menyampaikan isi bahan ajar dengan cara-cara yang telah dirumuskan sebelumnya di depan kelas  kepada para murid-muridnya. Guru semestinya diberi kebebasan untuk mengembangkan imajinasi, berkreasi, dan bahkan melakukan inovasi untuk mencari cara-cara sendiri,  bagaimana agar tugas-tugasnya  berhasil dijalankan sebaik-baikn

Selain itu harus ada penilain dan pandangan yang baik dari guru-guru di Indonesia. Dengan demikian tergambar bahwa latar dan tujuan UKG adalah bersifat diagnosis, dalam arti memetakan mutu guru guru secara nasional untuk kemudian dilakukan solusi perbaikan dan pembinaan. Kemdiknas telah berjanji bahwa setelah adanya pemetaan mutu guru dari hasil UKG ini akan ditindak lanjutidengan pembinaan mutu guru secara berkelanjutan (PMB).

Pemerintah juga diharapkan dapat memperbaiki permasalahan yang terjadi dalam penyelenggaraan UKG secara online. Salah satu permasalahan yang banyak dikeluhkan adalah pelaksanaan UKG secara online, sehingga telah terjadi berbagai kejanggalan teknis seperti ketidaksiapan guru dan penyelenggara, serta ketidaksiapan pihak-pihak terkait di daerah seperti PLN dan jaringan Internett. Pihak Kemdiknas telah memperbaiki kelemahan dari sistem online ini pada ujian-ujian susulan UKG yang diselenggarakan secara bertahap di daerah-daerah.

Dengan adanya hubungan yang harmonis antara tenaga pendidik dan pemerintah Indonesia diharapkan dapat memeprbaiki kekurangan yang terjadi dalam kualifikasi tenaga pendidik bagi para penerus bangsa yang akan meneruskan mimipi serta asa dari para pemimpin yang belum terwujud dimasa sekarang dan mereka dapat merealisasikannya kelak dikemudian hari. Itulah yang diharapkan oleh semua lapisan masyarakat negara ini agar dapat menjadi negeri yang berada di atas angin.

Sumber Referensi:

http://edukasi.kompas.com/read/2012/03/07/08304834/Kualitas.Guru.Masih.Rendah1   Diakses pada tanggal 10 November 2012 (Jam 13.00-17.00)

http://aceh.tribunnews.com/2012/10/17/mutu-guru-saatnya-untuk-realistis2   Diakses pada tanggal 10 November 2012 (Jam 13.00-17.00)

http://id.88db.com/id/Knowledge/Knowledge_Detail.page/Special-Offer/?kid=34651&lang=en-us3 Diakses pada tanggal 10 November 2012 (Jam 13.00-17.00)

http://www.m-edukasi.web.id/2012/06/upaya-peningkatan-kualitas-pendidikan.html
Copyright http://www.m-edukasi.web.id Media Pendidikan Indonesia. Diakses pada tanggal 10 November 2012 (Jam 13.00-17.00)

http://www.m-edukasi.web.id/2012/06/upaya-peningkatan-kualitas-pendidikan.htmlhttp://ahmadmasumriswandi.blogspot.com/2012/04/upaya-meningkatkan-kualitas-guru.html . Diakses pada tanggal 10 November 2012 (Jam 13.00-17.00)

http://www.uin-malang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=3005%3Akualitas-guru-dan-birokrasi-pendidikan&catid=25%3Aartikel-rektor&Itemid=367. Diakses pada tanggal 10 November 2012 (Jam 13.00-17.00)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s