Galeri

Bukan Lagi Sekedar Memori Sang Garuda

by yongki aleksander

 “Indonesia tercatat sebagai negara terkorup nomor empat di dunia”

Hormat pada garuda terkikis setelah prestasi korup menggelegar. Sudah selayaknya kita  masih menyimpan memori yang menghentakkan getar hati negeri ini yakni pengorbanan  para pejuang dan pahlawan kita yang begitu kuat untuk membebaskan Indonesia dari tangan penjajah. Masih dalam kenangan juga betapa bangsa lain  dahulunya menghormati bangsa Indonesia yang sempat menjadi pelopor ASEAN. Namun, yang terjadi sekarang adalah sebaliknya. Bangsa ini diberikan julukan  bangsa paling korup di dunia, “jam karet” dan suka melemparkan tanggung jawab. Negeri kita juga mendapat julukan yang tak layak, yaitu surga para koruptor yang tak pernah memikirkan orang lain dan gembongnya teroris. Sungguh berputar 180 derajat, bukan?

Bahkan, bangsa ini juga layak diberi sebutan “mudah dihasut” dan mudah untuk mengeluarkan emosi. Ini terlihat dari berbagai anarkisme yang terjadi di Indonesia. Anarkisme yang sangat jauh dari karakter sopan santun yang dulunya kita anut. Lantas, apa yang telah terjadi sekarang?

Beberapa waktu yang lalu, terjadi sebuah tragedi yang memilukan, di mana para mahasiswa bentrok dengan aparat keamanan di saat rapat penentuan kenaikan harga BBM1. Kejadian tersebut seakan mengingatkan kita betapa mudahnya pergesekan batu masalah yang memicu api emosi, yang berujung pada tindakan anarkisme.

Saat ini, anarkisme dianggap lazim, ketika suara hati  yang ingin disampaikan tidak digubris sama sekali. Anarkisme dianggap “boleh”, ketika apa yang diinginkan tidak tercapai. Padahal, anarkisme bukan budaya kita, bangsa Indonesia. Bangsa ini bukan bangsa yang suka kekerasan, karena justru sedari dulu bangsa ini terkenal dengan julukan  bangsa yang penuh dengan keramah tamahan. Lantas, apa gerangan yang terjadi sekarang?

Sebagian orang berpendapat dari kita  berpandangan bahwa Pemerintah kurang serius dalam membenahi sektor pendidikan. Sesuatu yang layak untuk diperbincangkan  karena dari berbagai sudut pandang emosi dan pemikiran , pemerintah sangat berkomitmen untuk meningkatkan taraf pendidikan. Mulai dari 20% anggaran khusus untuk pendidikan,  Angggaran tersebut pasalnya akan digunakan untuk peningkatan kualitas pendidikan yang ada dalam negeri ini2.

Pendidikan adalah faktor yang amat penting dalam penigkatan kualitas  bangsa karena melalui pendidikan, dasar tiang-tiang  karakter manusia dibentuk. Sekitar tahun 70-an pemerintah mempunyai program pembangunan karakter bangsa yakni model Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila)3. Pendidikan karakter merupakan hal yang sangat diperlukan untuk memfondasikan, membangun serta mempertahankan  jati diri bangsa Indonesia.  Sayang, pendidikan karakter di Indonesia perlu diberikan jalan yang lebih terarah lagi  karena selama ini baru mencapai  tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai. Pendidikan karakter yang dilakukan belum sampai pada tingkatan pengedepanan  dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan di Indonesia saat ini cenderung lebih mengedepankan penguasaan aspek Intelligence saja namun mengabaikan pendidikan karakter. Pengetahuan tentang kaidah

moral yang didapatkan dalam pendidikan moral atau etika di sekolah-sekolah saat ini semakin jauh terbuang. Sebagian orang mulai tidak memperhatikan lagi bahwa pendidikan tersebut berdampak pada perilaku seseorang. Padahal pendidikan karakter ini diharapkan mampu menghadirkan

generasi yang berkarakter kuat, karena manusia sesungguhnya dapat dididik untuk menjadi lebih baik dan terarah apabiala dimulai dari sejak dini. Meski manusia memiliki karakter bawaan, tidak berarti karakter itu tidak  dapat diubah. Memang proses perubahan perubahan karakter mengandaikan suatu perjuangan yang begitu berat, suatu latihan yang terus-menerus untuk menghidupi nilai-nilai yang baik dan tidak terlepas dari faktor lingkungan sekitar.

Era keterbukaan informasi akibat globalisasi mempunyai faktor-faktor negatif antara lain mulai lunturnya nilai-nilai kebangsaan   yang dianggap sempit seperti patriotisme dan nasionalisme yang dianggap tidak cocok dengan nilai-nilai globalisasi dan universalisasi.

Pendidikan bukan hanya memperoleh kecerdasan dan transfer of knowledge, tetapi juga harus mampu membangun karakter atau character building dan perilaku. Dengan hakekat pendidikan dan dibangun metodologi yang tepat, maka diharapkan dapat dibangun intellectual curiosity dan membangun common sense dari generasi muda penerus bangsa. Tidak bisa ditunda lagi, generasi penerus bangsa harus serius untuk dibekali pendidikan karakter agar dapat menjadi penerus bangsa yang diharapkan oleh bangsa yang sedang kesepian akan penerus bangsa yang memang betul-betul kehilangan jati dirinya.

Jadi, diperlukan adanya keinginan untuk kembali ke karakter asli kita, karakter bangsa Indonesia. Mengganti rasa “aku” menjadi “kami”, sehingga tidak terjadi perselisihan dan rasa peduli sesama akan muncul, merangkul teman sebangsa bukan bangsa asing, dan memusuhi bangsa asing yang telah merusak negeri ini, bukan justru melemahkan teman yang berusaha menegakkan keadilan di negeri ini. Jika hal tersebut dapat dicapai, bangsa ini akan menjadi “tuan rumah di negeri  sendiri”. Tidak akan ada korupsi karena enggan mengambil hak orang banyak, enggan anarkis karena kekeluargaan adalah cara terbaik. Lagi pula, kita keluarga, bukan? Keluarga NKRI.

Pembangunan jati diri bangsa perlu dilakukan melalui transformasi, revitalisasi, dan reaktualisasi tata nilai budaya bangsa yang mempunyai potensi unggul dan menerapkan nilai modern yang membangun. Hal ini untuk memperkuat jati diri dan kebanggaan bangsa, pembangunan dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab yang dicirikan dengan watak dan perilaku manusia dan masyarakat Indonesia yang beragam, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, dan berorientasi iptek.

Kini saatnya kita mengajak anak bangsa untuk menyadari kembali akan nilai Kemerdekaan. Orang yang menyadari pentingnya akan nilai Kemerdekaan, tentu tidak akan hidup seenaknya sendiri dan tidak akan mementingkan diri sendiri dan sebaliknya kecintaannya akan semakin kuat. Dengan kesadaran itu ia turut menjamin kelangsungan hidup Tanah-Airnya. Di waktu lalu, mulai anak-anak sekolah, kita masih sering mendengar lagu-lagu perjuangan seperti Tanah Airku Indonesia, Negeri elok amat kucinta dan seterusnya. Lagu-lagu seperti itu kini tinggal kenangan, paling-paling tampil pada saat upacara di Istana. Untuk kepentingan pendidikan karakter bangsa, moral dan cinta Tanah-Air sebaiknya terus diajarkan kepada anak-anak mulai dari anak-anak TK sekalipun. Maka disamping membangun pendidikan kewarga-negaraan pendidikan harus mampu membuat anak didik bermanfaat, bagi bangsa menjadikan setiap anak bangsa semakin cinta terhadap Tanah-Air.

1. http://www.antaranews.com/berita/338531/menko-kesra-pendidikan-karakter-bangsa-suatu-keharusan

2.http://sosbud.kompasiana.com/2012/04/04/ke-mana-perginya-karakter-bangsa-indonesia-yang dulunya-kuat-itu/ diaksses pada (31 Oktober, 10.30 WIB).

3. Soedarsono, Soemarno. 2008. Membangun Kembali Jati Diri Bangsa. Jakarta : Elex Media Komputindo Munim

DAFTAR REFERENSI

Koesoema, Doni. 2007. Pendidikan Karakter. Jakarta : Grasindo.

Djatmiko, Harmanto Edy. 2006. Revolusi karakter bangsa menurut pemikiran M. Soeparno. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Soedarsono, Soemarno. 2008. Membangun Kembali Jati Diri Bangsa. Jakarta : Elex Media Komputindo Munim.

Nadhlatul Ulama (tanpa tahun). Hilangnya Karakter Bangsa.

INTERNET

http://wahyuti4tklarasati.blogspot.com/2011/02/pendidikan-karakter-bangsa.html diakses pada (31 Oktober, 10.15 WIB).

http://sosbud.kompasiana.com/2012/04/04/ke-mana-perginya-karakter-bangsa-indonesia-yangdulunya-kuat-itu/ diaksses pada (31 Oktober, 10.30 WIB).

http://www.antaranews.com/berita/338531/menko-kesra-pendidikan-karakter-bangsa-suatu-keharusan  (31 Oktober ,10.30 WIB).

sumber gambar :http://erlia91.blogspot.com/2010_08_01_archive.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s